Saat seorang pria kembali, kamu sudah punya sesuatu untuk dibangun: percakapan yang kalian berdua ingat. Tindak lanjut kecil yang penuh perhatian bisa membuat obrolan berikutnya terasa akrab. Fokuslah pada koneksi yang kalian berdua nikmati dan ingin lanjutkan.
Kembali ke sesuatu yang kalian bagi bersama
Pikirkan satu topik yang menarik bagi kalian berdua: buku yang sedang dia baca, lagu yang dia rekomendasikan, atau hobi yang kalian bahas. Saat kalian bicara lagi, kembali ke topik itu. Misalnya: “Apa kamu sudah selesai membaca buku yang pernah kamu ceritakan?”
Kalau pesan-pesan sebelumnya masih tersedia, baca ulang pertukaran terakhir sebelum menulis. Ingat apa yang sebenarnya dia katakan dan apa yang kamu bilang akan kamu lakukan. Kalau kamu tidak ingat suatu detail, tanyakan secara alami alih-alih berpura-pura ingat.
Kirim pesan dengan sebuah alasan
Tindak lanjut yang berguna terhubung dengan percakapan bersama kalian dan memberinya sesuatu yang mudah ditanggapi. Tulis pesan pribadi yang singkat lewat platform. Contoh-contoh ini hanyalah titik awal; pakailah hanya saat cocok dengan apa yang benar-benar terjadi:
- Setelah sebuah rekomendasi: “Saya mendengarkan lagu yang kamu sebut. Saya suka bagian gitarnya. Apa lagi yang kamu rekomendasikan?”
- Setelah membahas sebuah hobi: “Kamu tadinya mau mencoba teknik menggambar baru itu. Bagaimana hasilnya?”
- Untuk mengajak mengobrol lagi: “Saya menikmati percakapan kita tentang buku. Saya akan senang melanjutkannya lagi saat kita sama-sama online.”
Pilih contoh yang cocok dengan koneksimu dan tulis ulang dengan gaya bicaramu sendiri. Satu pesan yang relevan adalah titik awal yang baik. Pastikan kamu mengirimnya ke orang yang tepat dan bahwa detailnya memang milik percakapanmu dengannya.
Buat obrolan berikutnya lebih mudah diatur
Kalau kalian berdua ingin bicara lagi, sampaikan rentang waktu yang realistis saat kamu berencana online. Sertakan hari dan zona waktu kalau kalian berada di tempat yang berbeda. Misalnya: “Saya berencana online hari Kamis, 19:00–20:00 UTC. Apa itu cocok untukmu?” Gunakan ketersediaanmu yang sebenarnya, bukan waktu contoh.
Sampaikan rencana sebagai rencana; kamu tidak perlu berjanji akan selalu tersedia. Kalau waktu yang disepakati berubah, kirim kabar singkat begitu kamu bisa. Kalau jadwal kalian tidak cocok, biarkan ajakannya tetap terbuka untuk waktu lain yang pas.
Biarkan balasannya yang menentukan temponya
Setelah mengirim pesan, beri waktu untuk balasan. Orang memakai platform di waktu yang berbeda-beda, dan keheningan saja tidak menjelaskan mengapa seseorang belum menjawab. Hindari mengirim rentetan pengingat atau memintanya membenarkan diri karena sedang pergi.
Kalau dia membalas dengan hangat dan juga memulai percakapan, kamu bisa perlahan menemukan irama yang cocok untuk kalian berdua. Kalau balasannya tetap singkat atau berhenti, beri dia ruang. Tidak ada jumlah pesan tertentu yang menjamin seseorang akan kembali, dan kamu tidak perlu mengejar setiap percakapan yang sudah lewat.
Jadilah hangat, dapat diandalkan, dan jujur
Seiring waktu, biarkan koneksinya berkembang lewat minat bersama, kabar-kabar kecil, dan mengingat apa yang penting dalam percakapanmu. Tepati hal-hal yang kamu pilih untuk kamu janjikan, seperti mencoba sebuah rekomendasi atau kembali ke suatu topik. Kamu bisa hangat dan ceria sambil tetap tulus dalam kata-katamu.
Jelaslah tentang koneksi yang kamu tawarkan. Jangan memberi kesan eksklusivitas, ketersediaan terus-menerus, atau perasaan yang tidak kamu miliki hanya demi membuat seseorang kembali. Koneksi yang bertahan sebaiknya membuat kalian berdua tetap bebas memilih kapan dan bagaimana melanjutkannya.
Sebelum kamu mengirim pesan berikutnya, periksa tiga hal: pesan itu berkaitan dengan percakapanmu yang sebenarnya, rencana apa pun bersifat realistis, dan ajakannya memberinya ruang untuk memilih. Itu sudah cukup untuk membuat langkah berikutnya yang penuh perhatian.